snow rain

Jumat, 27 April 2012

pengertian, pemeriksaan Tes Faal Hati


TEST FAAL HATI
Banyak faal metabolik yang dilakukan oleh jaringan hati, maka ada banyak pula, lebih dari 100, jenis test yang mengukur reaksi faal hati. Semuanya, disebut sebagai "tes faal hati". Sebenarnya hanya beberapa yang- benar-benar mengukur faal hati. Diantara berbagai tes tersebut tidak ada tes tunggal yang efektif mengukur faal hati secara keseluruhan. Beberapa tes terlalu peka sehingga tidak khas, sebagian lagi dipengaruhi pula oleh faktor-faktor di luar hati, sebagian lagi sudah obsolete. Sebaliknya makin banyak tes yang diminta maka makin besar pula kemungkinannya mendapatkan defisiensi biokimia. Cara pemeriksaan shotgun semacam itu akan menimbulkan kebingungan. Sebaiknya memilih beberapa tes saja.
Beberapa kriteria yang dapat dipakai adalah, antara lain, dapatnya dikerjakan tes tersebut secara baik dengan sarana yang memadai, segi kepraktisan, biaya, stress yang dibebankan kepada penderita, kemampuan diagnostik dari tes tersebut, dan lain-lain. Pada pengujian kerusakan hati, gangguan biokimia yang terlihat adalah peningkatan permeabilitas dinding sel, berkurangnya kapasitas sintesa, terganggunya faal ekskresi, berkurangnya kapasitas penyimpanan, terganggunya faal detoksifikasi peningkatan reaksi mesenkimal dan imunologi yang abnormal.
Dengan melihat gangguan faal biokimia mana yang ingin diketahui dan mempertimbangkan kriteria di atas maka testes yang ada dapat dikelompokkan menurut suatu program bertahap.

I. Integeritas Sel
             Enzim-enzim AST, ALT & GLDH akan meningkat bila terjadi kerusakan sel hati. Biasanya peningkatan ALT lebih tinggi dari pada AST pada kerusakan hati yang akut, mengingat ALT merupakan enzim yang hanya terdapat dalam sitoplasma sel hati (unilokuler). Sebaliknya AST yang terdapat baik dalam sitoplasma maupun mitochondria (bilokuler) akan meningkat lebih tinggi daripada ALT pada kerusakan hati yang lebihdalam dari sitoplasma sel. Keadaan ini ditemukan pada kerusakan sel hati yang menahun. Adanya perbedaan peningkatan enzim AST dan ALT pada penyakit hati ini mendorong para peneliti untuk menyelidiki ratio AST & ALT ini. De Ritiset al mendapatkan ratio AST/ALT =0,7 sebagaibatas penyakit hati akut dan kronis. Ratio lni yang terkenal dengan narna ratio De Ritis memberikan hasil <> 0,7 pada penyakit hati kronis. Batas 0,7 ini dipakai apabila pemeriksaan
enzim-enzim tersebut dilakukan secara optimized, sedangkan apabila pemeriksaan dilakukan dengan cara kolorimetrik batas ini adalah 1. Istilah "optimized" yang dipakai perkumpulan ahli kimia di Jerman ini mengandung arti bahwa cara pemeriksaan ini telah distandardisasi secara optimum baik substrat, koenzim maupun lingkungannya. Enzim GLDH bersifat unikoluker dan terletak di dalam mitochondria. Enzim ini peka dan karena itu baik untuk deteksi dini dari kerusakan sel hati terutama yang disebabkan oleh alkohol, selain itu juga berguna untuk diagnosa banding ikterus. Perlu diketahui bahwa cortison dan sulfonil urea pada dosis terapi dapat menurunkan kadar GLDH. Pemeriksaan enzim LDH total akan lebih bermakna apabila dapat dilakukan pemeriksaan isoenzimnya yaitu LDH. Dalam hubungannya dengan metabolisme besi, sel hati rnembentuk transferin sebagai pengangkut Fe dan juga menyimpannya dalam bentuk feritin dan hemosiderin.
Cu terdapat di dalam enzim seruloplasmin yang dibentuk oleh hati. Kelebihan Cu akan segera diekskeresi oleh hati. Perubahan kadar Fe dan / atau Cu pada beberapa penyakit hati.

II. Faal Metabolisme/Ekskresi
            Tes BSP (bromsulfonftalein), suatu zat warna, merupakan tes yang peka terhadap adanya kerusakan hati. Diukur retensinya di dalam darah beberapa waktu setelah disuntikkan intravena.

Di dalam darah ia diikat oleh albumin dan di "uptake" olehsel-sel hati, dikonyugasi dan diekskresi melalui empedu. Pada penyuntikan 5 mg/kg berat badan maka setelah 45 menit retensinya kurang dari 5% pada keadaan normal.
Korelasinya baik dengan kelainan histopatologik. Tes ini berguna pada hepatitis anikterus, mengetahui kerusakan setelah sembuh dari hepatitis, sirosis hati, semua tingkat hepatitis kronik, tersangka perlemakan hati dan keracunan hati. Namun tes ini kurang disenangi karena dapat timbul efek samping, walaupun jarang, yang fatal seperti renjatan anafilaktis.
Akhir-akhir ini makin banyak dikerjakan pemeriksaan kadar asam empedu dalam darah. Tes ini mempunyai makna seperti tes retensi BSP dan juga amat peka terutama kadarnya 2 jam
setelah makan.
Kadar amonia mengukur faal detoksifikasi hati yang merubahnya menjadi ureum. Faal ini baru terganggu pada kerusakan hati berat karena itu tes ini baru berguna untuk mengikuti perkembangan sirosis hati yang tidak terkompensir atau koma hepatikum. Kadarnya juga akan meningkat bila ada shunt portokaval yang mem"by-pass" hati.
Tes toleransi galaktosa menguji kemampuan faal hati mengubah galaktosa menjadi glukosa. Tes ini sudah jarang dilakukan.

III. Faal Ekskresi
Pemeriksaan kadar bilirubin serum terutama panting untuk membedakan jenis-jenis ikterus. Pemeriksaan ini yang umumnya memakai metodik Jendrassik dan Grof (1938) dapat di
pengaruhi oleh kerja fisik dan makanan tertentu seperti karoten, oleh karena itu pengambilan sampel sebaiknya pagi hari sesudah puasa. Pada ikterus prahepatik yang dapat disebabkan oleh proses hemolisis ataupun kelainan metabolisme seperti sindroma Dubin-Johnson, ditemukan peningkatan dari bilirubin bebas. Ikterus hepatik sebagai akibat kerusakan sel hati akan meningkatkan baik bilirubin babas maupun bilirubin (diglukuronida) dalam darah serta ditemukannya bilirubin (diglukuronida) didalam urin. Sedangkan ikterus obstruktif, baik intra maupun ekstra hepatik, akan meningkatkan terutama bilirubin diglukuronida di dalam darah dan urin. Kadar urobilinogen dalam urin akan meningkat pada ikterus hepatik, sebaliknya ia akan menurun atau tidak ada sama sekali pada ikterus obstruktif sesuai dengan derajat obstruksinya.
Seperti telah disinggung sebelumnya pemeriksaan asam empedu makin banyak dipakai sebagai tes faal hati. Pemeriksaan ini dimungkinkan untuk dipakai di dalam klinik sejak ditemukannya metodik onzimatik yang relatif sederhana dibandingkan metodik-metodik sebelumnya. Dalam keadaan normal hanya sebagian kecil saja asam empedu terdapat di dalam darah sedangkan sebagian besar di uptake oleh sel hati. Pada kerusakan sel hati, hati gagal mengambil asam empedu, sehingga jumlahnya meningkat dalam darah. Pemeriksaan ini seperti pemeriksaan BSP dapat mendeteksi kelainan hati yang ri ngan disamping untuk follow up dan menguji adanya shunt port caval.

IV. Faal Sintesa
Albumin disintesa oleh hati. Pada gangguan faal hati kadarnya di dalam darah akan menurun. Cara pemeriksaan yang banyak dipakai sekarang adalah cara bromcresylgreen. Selain dengan cara di atas, penurunan kadar albumin juga dapat diukur secara elektroforesa dengan peralatan khusus yang lebih mahal. Selain dengan pemeriksaan albumin, pemeriksaan enzim cholinesterase(ChE) juga dipakai sebagai tolok ukur dari faal sintesa hati. Penurunan aktivitas ChE ternyata lebih spesifik dari pemeriksaan albumin, karena aktivitas ChE kurang dipengaruhi faktor-faktor di luar hati dibandingkan dengan pemeriksaan kadar albumin.
Penetapan masa protrombin plasma berguna untuk menguji sintesa faktor-faktor pembekuan II, VII, IX dan X. Semua pemeriksaan tersebut lebih berguna untuk menilai atau membuat prognosa dari pada mendeteksi penyakit hati kronis.

V. Proses Reaktif
Baik enzim GGT, AP, 5-NT maupun. LAP akan meningkat pada kelainan saluran empedu Enzim-enzim cholestasis ini juga akan meningkat dalam kadar yang lebih rendah pada kerusakan sel parenkin hati. Pemeriksaan GGT pada saat ini merupakan pemeriksaan yang paling populer dari ketiga pemeriksaan lainnya. Peningkatan aktivitas enzim ini sering merupakan tanda pertama keracunan sel hati akibat alkohol. Disamping itu mengingat half-life nya yang panjang peningkatan enzim ini sering merupakan abnormalitas terakhir yang dijumpai pada proses penyembuhan kerusakan hati.

VI. Imunologi
Pemeriksaan TTT (tes turbiditas timol) merupakan salah satu tes labilitas yang telah lama dikenal (sejak 1944). Mekanisme fisika—kimia dari tes ini belum jelas. Diketahui globulin akan mempermudah pembentukan presipitasi, sedangkan albumin menghambat proses ini. Disamping itu trigliserida dan khilomikron dapat menyebabkan tes TTT positip. Peningkatan dari TTT kadang-kadang ditemukan sebelum terjadi kelainan pada hasil pemeriksaan elektroforesa dan albumin. Tes labilitas yang lain adalah tes turbiditas zink sulfat (Kunkel), Takata Ara, dan lain-lain. Sebenarnya tes-tes labilitas ini bukan berdasarkan reaksi antigen antibodi, tetapi menggambarkan fraksi-fraksi protein.
Peningkatan dari globulin yang merupakan respon imunitas ini biasanya baru ditemukan pada kerusakan hati yang kronis. Pada penyakit hati kronik biasanya ditemukan peningkatan IgG. Peningkatan IgM menyolok pada hepatitis type A, sedangkan untuk hepatitis type B yang menyolok biasanya IgG.
Pemeriksaan AFP pada mulanya disangka adalah spesifik untuk karsinoma hati primer (hepatoma), namun ternyata selain selain oleh sel tumor hati, AFP juga adakalanya dibentuk oleh sel tumor pada saluran pencernaan. Denaan cara radioimmunoassay atau enzyme immunoassay kadarnya hanya 20 mg/ml dalam darah orang normal. Masih belum diketahui dengan jelas mekanisme peningkatannya pada sel-sel tumor diatas. Bila kadarnya melebihi 3000 ng/ml hampir dapat dipastikan diagnosa hepatoma. Kadar yang kurang dari itu dapat juga dijumpai pada sirosis hati, hepatitis, kehamilan trimester ketiga, teratoma, dll. Pemeriksaan AFP ini terutama dipakai untuk memonitor terapi bedah ataupun khemoterapi karsinoma hati.
Ada pula beberapa antibodi yang berhubungan dengan penyakit hati. Antibodi-antibodi yang ditetapkan secara immunofluorescence ini antara lain antinuclear antibody (ANA) ditemukan pada hepatitis kronik aktif, anti micochandrial antibody (AMA) dapat ditemukan pada hepatitis kronik aktif, sirosis bilier dan cholestasis dan smooth muscle antibody (SMA) yang ditemukan pada hepatitis virus akut.
Telah diketahui beberapa "seromarker" virus hepatitis A dan B. Untuk virus hepatitis A dikenl HA Ag dan anti-HA. Untuk virus hepatits B dikenal HBsAg, HBcAg, HBeAg, anti-HBc dan
anti-HBe. Pertanda serologik ini bermakna untuk menentukan etiologi, mekanisme penularan, daya tular, tahap penyakit hepatitis dan penyakit hati lainnya yang berkaitan serta prognosanya.

PENGGUNAAN DALAM KLINIK
Di klink pemeriksaan "faal" hati diperlukan untuk diagnosa adanya dan jenis penyakit hati, diagnosa banding (ikterus, hepatomegali, asites, perdarahan saluran pencernaan), menilai
beratnya penyakit, menilai prognosa dan mengikuti hasil pengobatan. Juga diperlukan untuk penilaian prabedah serta pada keracunan obat-obatan.
Sebagai pedoman umum dapat dilakukan menurut beberapa prinsip praktis seperti pemilihan tes haruslah menggambarkan berbagai macam tolok ukur dari faal-faal hati, tes faal hati dilakukan secara serial untuk menilai perkembangan penyakit dan juga semua tes tersebut harus ditafsirkan di dalam keseluruhan konteks klinik. Juga harus dipahami bahwa tiap tes laboratorium dapat saja tidak bebas dari kesalahan.
Pengertian menyeluruh diartikan mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorik sampai pemeriksaan khusus. Pentingnya anamnesa misalnya pada diagnosa druginduced hepatitis.
Dengan makin banyaknya pemakaian biopsi jarum, endoskopi, ultrasonografi, scanning, arteriografi dan lain-lain untuk diagnosis tepat peranan diagnostik dari tes-tes faal hati sekarang
ini sudah banyak berkurang. Walaupun demikian tes-tes ini masih berguna untuk menyaring adanya penyakit hepatobilier, mengetahui beratnya dan mengikuti kemajuannya.
Sebagai pemeriksaan penyaring : pemeriksaan 3 macam enzim, yaitu ALT untuk kerusakan sel hati, GGT untuk kolestasis dan cholinesterase untuk faal sintesa hati.
Pemilihan macam tes faal hati apa saja yang diperlukan untuk setiap keadaan dan jenis penyakit hepatobilier ini masih belum ada kesepakatan, Bermacam-macam algoritme yang diusulkan dan penggunaan komputer telah dilakukan pula. Untuk itu terlebih dahulu perlu dibakukan klasifikasi penyakit, metode pemeriksaan laboratorium dan diagnostik lainnya kemudian diterapkan untuk mendapatkan data asupan.


 TES FAAL HATI II
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui fungsi kerja / kelainan pada hati yang mungkin di sebabkan oleh multifaktor.
Secara umum ada 2 macam gangguan faal hati.
Peradangan umum atau peradangan khusus di hati yang menimbulkan kerusakan jaringan atau sel hati.
Adanya sumbatan saluran empedu.
Indikasi tes faal hati
Ada persangkaan (dugaan) penyakit hati primer
Kelainan hati oleh penyakit lain
DD/ Ikterus
DD/ Hepatomegali
Gambaran & prognosa penyakit hati
“Follow up” pengobatan

MACAM-MACAM TESFAAL HATI
1. Tes Fungsi Parenkim
Pemeriksaan laboratorium :
Bilirubin : bilirubin serum (kuantitatif)
Diperiksa secara fotometer dari serum/plasma darah
- Bil. I g Rx. tdk langsung (alb. diikat alkohol)
- Bil. II g Rx. langsung g direk
- Bil. Total g serum + alkohol g Bil. I + Bil. II

Yang diperiksa : Bilirubin Total & Bil. II
sedangkan Bilirubin I = Bilirubin Total – Bil. II
Urobilinogen
- Urin
- Feses g sterkobilinogen [ cara : WATSON
Dimana :
a. Urobilinogen urin
N = ± 1 – 4 mg/24 jam urin
b. Urobilinogen feses
N = 40 – 280 mg/24 jam g 30 – 200 mg%

2. Tes Sintesa Protein
Sintesa : Parenkim hati
-). >> albumin
-). Glob (a, b, g) g Res . lain
-). Fibrinogen + F. pembekuan

3. Metabolisme Lemak
Yaitu digunakan untuk pemeriksaan Kolesterol total dan kolesterol ester
Hati memetabolisme lemak dengan cara :
Mensintesa
Esterifikasi (diikat dengan as. Lemak)
Ekskresi (ke dalam empedu)
Kolesterol bebas disintesa di hati dan di luar hati
Kolesterol ester
Penyakit parenkim hati berat :
- kolesterol total menurun
- kolesterol ester Sangat menurun
Iktrus Obstruksi :
- ke empedu
karena kolesterol total meningkat sampai 500 mg/dl (N= 220 mg/dl)
Kolesterol Darah total = kolest. Bebas + kolest. Ester
Kolest. Total : N : 125-220 mg/dl
Kolest. Ester : N : 70-75 % dari kolest. total

4. Perubahan Aktivitas Enzim
Digunakan untuk pemeriksaan aktifitas enzim secara fotometer dari sampel serum
Enzim yg menilai integritas sel hati
-). SGOT (ASAT), SGPT (ALAT), LDH (LDH5) = enzim sitoplasma
-). SGOT, GLDH = enzim mitokondria
Enzim menilai kolestasis
-). ALP, gGT, 5 – NT, LAP à tu. Di sekitar kanalikuli biliaris
-). Cholinesterase: tdk khas untuk hati
-). Pseudo cholinesterase : khas hati

Fungsi Tes Faal Hati

hati dalam tubuh mempunyai multifungsi, sehingga tes faal hati pun beraneka ragam sesuai dengan apa yang hendak kita nilai.
Untuk menilai fungsi sintesis (protein, zat pembekuan darah dan lemak) biasanya dilakukan pemeriksaan albumin, masa protrombin, dan kolesterol.
Untuk menilai fungsi ekskresi/transportasi menggunakan pemeriksaan bilirubin, alkali fosfatase, γ-GT
Untuk mengetahui kerusakan sel hati/jaringan hati, memakai pemeriksaan SGOT (AST), SGPT (ALT).
Untuk melihat adanya pertumbuhan sel hati yang muda (karsinoma sel hati) digunakan Alfa Feto Protein (AFP)
Untuk menjelaskan adanya kontak dengan virus hepatitis B, pemeriksaan HBsAg, Anti HBs, HBeAg, Anti HBe, Anti HBc, dan HBVDNA perlu dijalani pasien.
Untuk melihat adanya kontak dengan virus hepatitis C, pemeriksaan anti HCV, HCV RNA, dan genotype HCV perlu dilakukan.

Gangguan Faal Hati

Secara umum terdapat dua jenis/macam gangguan faal hati.
Akibat peradangan umum atau peradangan khusus di hati. Kondisi ini menimbulkan kerusakan jaringan/sel hati.
Akibat tersumbatnya saluran empedu.

Macam Hasil Tes
Test faal hati pada pasien dengan infeksi bakterial maupun virus sistemik yang bukan virus hepatitis. Gejala klinisnya berupa demam tinggi, myalgia, nausea, asthenia dan sebagainya. Tes ini memperlihatkan peningkatan SGOT, SGPT serta γ-GT antara 3-5 kali nilai normal. Albumin sedikit menurun bila infeksi sudah terjadi lama dan bilirubin dapat meningkat sedikit terutama bila infeksi cukup berat.
Test faal hati pada pasien dengan hepatitis virus akut maupun drug induce hepatitis. Faal hati seperti bilirubin direct / indirect dapat meningkat biasanya kurang dari 10 mg%, kecuali pada hepatitis kolestatik, bilirubin dapat lebih dari 10 mg%. SGOT, SGPT meningkat lebih dari 5 sampai 20 kali nilai normal. γ-GT dan alkalifosfatase meningkat dua sampai empat kali nilai normal, kecuali pada hepatitis kolestatik dapat lebih tinggi. Albumin/globulin biasanya masih normal kecuali terjadi hepatitis fulminan, rasio albumin globulin dapat terbalik dan masa protrombin dapat memanjang.
Test faal hati untuk pasien dengan sumbatan saluran empedu. Bilirubin direct dan indirect dapat tinggi sekali (> 20 mg%), terutama bila sumbatan sudah cukup lama. Peningkatan SGOT dan SGPT biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar kurang dari 4 kali nilai normal, γ-GT dan alkalifosfatase meningkat sekali dapat lebih dari 5 kali nilai normal. Kolesterol juga meningkat.
Test faal hati bagi pasien dengan perlemakan hati (fatty liver). Albumin/globulin dan bilirubin biasanya masih normal. SGOT dan SGPT meningkat 2-3 kali nilai normal demikian juga γ-GT dan alkalifosfatase meningkat ½ - 1 kali dari normal. Kadar triglyserida dan kolesterol juga terlihat meninggi. Kelainan ini sering terjadi pada wanita dengan usia muda/pertengahan, gemuk, dan biasanya tidak terdapat keluhan yang berupa perasaan tak nyaman pada perut bagian kanan atas. Pada kasus perlemakan hati primer, semua petanda hepatitis C harus negatif.

Kelainan Faal Hati Tak Spesifik

Kelainan faal hati tak spesifik umumnya terjadi pada penderita, yang penyakit hatinya telah mempengaruhi fungsi dari organ lain. Seperti ginjal, paru jantung, dan sebagainya. Dalam hal seperti ini, gambaran klinis serta pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan, dan Endoscopy Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) atau bahkan biopsi hati biasanya diperlukan untuk menegakkan diagnosisnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar